Fenomena motor leasing (Have You Ever)

Tulisan in dalah sambungan dari tulisan Macet dan Angkuatn umum jadi ini tulisan ketiga.

Have You Ever ….

Pernahkan anda memperhatikan sewaktu anda jalan di jalan Ibukota (Jakarta) dan menunggu lampu merah. Siapa saja yang ada disana ? Jawabnya banyak ada angkutan umum, mobil pribadi, pedagang asongan, motor, motor, motor , motor, motor lagi dan ……. motor terus.

Kok banyak amat ? Ya, jumlah motor di Jakarta sekarang sudah sangat banyak dan kalau lampu berubah jadi hijau …. Seperti biasa para motor langsung tancap gas dan yang terlihat seperti lalat yang menyerbu makanan …. Banyak sekali. Bahkan sebelum hijaupun (lampu kuning) beberapa motor sudah mulai jalan. Mobil bagaimana ? …. Ada juga yang agak gila ikut diantara kerumunan motor tetapi yang waras memilih untuk menunggu sampai kumpulan motor mulai jalan lancar di depan mereka.

”Lebih baik menunggu satu menit dari pada menyenggol motor ….. Bukan apa-apa …. Tanpa melihat siapa yang salah …. Mereka pasti marah duluan dan yang lain pasti ikut nimbrung, yang ada …… Pembenaran bahwa selalu mobil yang salah dan motor yang menang.” Begitu teman saya pernah bicara pada saya dalam menyikapi sikap pengendara motor yang ada di Jakarta.

Selalu begitu ? Jelas tidak …. ada beberapa Brotherhood (Perkumpulan Motor) yang kebetulan benar dalam arti menjaga sikap sesuai dengan porsinya. Mereka menjaga menejemen perkumpulan dengan cara yang benar dan bukan hanya itu terkadang mereka juga memperbaiki cara anggotanya dalam berkendara. Meski demikian jumlah mereka sangatlah sedikit dan terkesan ekslusif selebihnya …. Maaf yang ada kelompok bebas yang agak keras dalam berkendara.

Have You Ever …..

Pernahkan anda memperhatikan dan bertanya …. Mengapa jumlah motor begitu banyak?
Jawabnya karena usaha Leasing ….. Secara awam orang menyebutnya beli motor kredit.
Saya tidak akan menyebutkan perusahaan Leasing satu persatu (takut dibilang iklan) yang jelas definisi Leasing adalah sewa guna usaha dan salah satu kegunaan Leasing adalah : Konsumen dapat memiliki barang tanpa harus mempunyai uang kontan (maaf kalau mau lebih jelas baca buku Perbankan atau Lembaga Keuangan …. Biar lebih Jelas).

Sewa Guna Usaha ? Artinya bukan beli dong ……. ?
Ya …. Benar. Orang yang ”beli motor dengan kredit” (melalui Leasing), Sebenarnya bukan beli kredit tetapi sewa. Motor tersebut baru dikatakan milik penyicil ”kredit” bila sudah lunas. Selama belum lunas motor itu berstatus sewa …. sama seperti kontrak rumah.

HAAAHHH !!!!! Yang Benar ? ….. Buktinya apa ?
Buktinya, bila saya beli motor atau mobil secara kontan atau cash, STNK dan BPKB pasti ditangan saya, jadi mobil atau motor itu milik saya sepenuhnya. Tetapi dalam pembelian motor dengan Leasing, penyicil hanya memegang STNK saja sedangkan BPKB masih dipegang perusahaan Leasing.

Artinya ? …. Motor tersebut masih milik perusahaan Leasing dan bukan milik penyicil dan sewaktu-waktu apabila cicilan sewa tidak terbayar maka motor akan ditarik. Seperti bila kita tidak bayar kontrakan maka kita akan diusir dari rumah kontrakan.

Jadi motor Leasing atau kredit dan rumah kontrakan bukan milik pemakai ?
Jelas ….. Karena kita hanya sewa tetapi yang kebablasan, penyicil motor menggangap motor yang mereka pakai adalah milik mereka sehingga mereka pikir mereka boleh melakukan apa saja atas motor yang mereka pakai.

Have You Ever ……

Pernahkan anda melihat dan menemui motor yang tidak berupa motor karena sudah di modifikasi total, seperti diselubungi karpet atau digambar-gambar atau dipreteli satu persatu bahkan dihilangkan standar untuk parkir sehingga bila parkir motor itu di posisikan tidur selayaknya sepeda tanpa standar? Saya pernah lihat dan saya sangat menyayangkan …. Kenapa ? Pertama, karena bisa jadi motor itu belum lunas jadi sifatnya sewa dan bukan miliknya. Selayaknya titipan sebaiknya harus di rawat. Kedua, cari uang di jaman sekarang sangat sulit dan bila uang sudah didapat maka sebaiknya dipergunakan dengan baik. Beli motor pake uang jadi setelah dibeli motor sebaiknya dirawat.

Have You Ever ……

Pernahkah anda melihat pengendara motor yang ugal-ugalan dan merasa jalanan mikiknya ? Saya pernah dan sering bahkan. Mengapa sampai terjadi seperti itu ? saya tidak tahu pasti tetapi seperti ya telah terjadi keterkejutan budaya ”Culture Shock” diantara kita rakyat yang tergolong dalam ekonomi menengah kebawah. Biasanya mereka hanya bisa naik kendaraan umum, seperti saya, hanya dengan uang ratusan ribu mereka bisa punya motor. Dulu uang segitu hanya bisa beli sepeda kualitas prima tapi kini mereka bisa beli motor dan itu membuat mereka kaget karena mimpi mereka bisa terwujud secara tiba-tiba.

Saya pernah melihat stiker yang tertempel di spakboard motor berbunyi ”Motor ada di jalur kiri …. artinya yang miskin minggir.”. Bila motor diharuskan jalan dijalur kiri, itu adalah sebuah peraturan yang dari jaman dulu telah ada. Coba perhatikan motor-motor yang jalan di Jakarta pada tahun 80-an atau awal 90-an, Semua motor ada dijalur lambat karena peratuarn demikian adanya. Maaf tolong perhatikan tulisan stiker tadi …. Apa yang tertangkap dalam benak anda ….. ? Kesan dari stiker itu : Pengendara motor adalah orang miskin dan pemerintah mencoba mengusir mereka dari jalan. Benar demikian ? Jelas tidak ! Peraturan bukan hanya untuk orang miskin saja tetapi untuk semuanya. Tanpa kecuali. Pemilik atau pembuat stiker mencoba bangun untuk eksis karena mereka pikir mereka adalah miskin dan akan tersingkirkan …. Seperti biasanya … Si miskin selalu tertindas, dan mengendari motor ugal-ugalan adalah salah satu wujud dari pembuktian eksistensi yang menurut saya salah.

Maaf ini hanya analisa sederhana dan perlu pembuktian. Sekali lagi bila anda tersinggung ….. Bisa jadi anda memang temasuk dalam bagian ini (pengendara yang saya tuis diatas) tetapi bila anda mau berpikir tenang bisa jadi anda dapat mengambil hikmah dari tulisan itu.

Saya hanya warga jakarta yang ingin bisa pergi kapan saja tanpa harus tegang setiap kali bawa mobil atau naik angkot dan yang jelas saya msaih ingin melihat Jakarta yang hijau dan menghirup udara yang bersih.

Published in: on Januari 29, 2009 at 8:16 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Fenomena Angkot (Have You Ever)

Have You Ever …..

Pernahkah anda membaca tulisan saya yang terdahulu (Fenomena Macet) ?
Bila belum silahkan baca dulu karena ini tulisan sambunganya.
Pada tulisan terdahulu saya membahas kebijakan pemerintah dalam menanggulangi kemacetan dengan memajukan jam masuk anak sekolah dan kasak-kusus akan diberlakukannya jam masuk lebih awal untuk perkantoran. Dalam tulisan itu juga saya membahas tentang tidak mudahnya permasalahan kemacetan diselesaikan karena begitu banyak sumber atau pagkal masalah dalam hal kemacetan di Jakarta. Pada tulisan itu pula saya berwanti-wanti akan dampak dari kebijakan pemajuan jam kantor (bila hal itu dilakukan).

Disini saya akan membahas salah satu sumber atau penyumbang kemacetan, yaitu transportasi umum atau terkadang disebut dengan Angkot (angkutan kota).

Have You Ever ……

Pernahkan anda mamakai Transportasi Umum ? Baik itu Angkot, Mikrolet, Kopaja, Kereta Jabotabek, Bis atau Taxi?

Saya sudah dan sering bahkan hampir setiap hari. Bila anda seperti saya, pasti anda sering mengalami pengalaman tidak menyenangkan seperti dipindah dari satu angkutan ke angkuatan yang lain karena supir malas meneruskan perjalanan, diomeli kernet atau disuruh masuk dengan cara yang tidak sopan, berdesakan didalam angkutan atau kecopetan. Kalau anda warga Jakarta ….. dan hidup cukup lama di Jakarta …. Pasti pernah merasakan apa yang saya rasakan …… PERNAH MERASAKAN SEMUA ITU ….. SEMUA termasuk KECOPETAN.

Sebagai konsumen yang punya hak untuk membela haknya dan juga memilih ….. Saya tidak dapat berbuat apapun. Saya tidak bisa membela hak saya yang ”terzhalimi” dan tidak bisa memilih karena hampir semua Moda Transportasi Umum di Jakarta demikian dan sepertinya semua warga Jakarta yang Terzhalimi mulai malas untuk membahas dan mulai mengangap hal itu adalah lumrah.
Aneh bukan ….. Terzhalimi tetapi dianggap lumrah? ……. Bagaimana lagi …. tidak ada pilihan. Kami hanya bisa mencari yang paling buruk diantara kumpulan yang terburuk.

Seburuk itukah ?

Have You Ever ……

Pernahkan anda memperhatikan moda transportasi umum yang anda pakai ….

Metromini dan Kopaja ….. Pernahkan anda perhatikan, tempat duduk supit tidak atau jarang pas ada didepan setir atau kemudi. Terkadang ada di sebelah kiri setir dekat pintu masuk supir. Mengapa demikian ?
Apakah itu membuat nyaman duduk supir ? Jelas tidak ergonomic dan dapat membuat pegal.
Apakah itu dapat membuat cepat dalam mengemudi ? Bila Ya …. Kenapa mobil F1 tidak di disain seperti itu …… Kenapa ?

Jawabnya karena mesin dan Chasis Metromini dan kopaja tidak dibuat untuk kendaraan sebesar itu jadi chasis dipaksakan untuk kendaraan sebesar itu sedangkan dari pabrik tidak rirancang untuk tugas seberat itu. Berbahayakah? YA …. karena hal itu diluar peruntukannya. Kenapa mobil Ceria bentuknya kecil ? … karena chasisnya kecil. Kenapa APV bentuknya besar ? ….. Ya karena chasisnya besar. Artinya bentuk harus sesuai dengan chasis dan sebaliknya. Belum lagi masalah asap yang sangat menggangu.

Bagaimana dengan Mikrolet dan KAB? Sama saja … Hanya yang berbeda bila Metromini dan Kopaja terjadi penyimpangan chasis terhadap besar body, miktrolet dan KAB terjadi penyimpangan pada beban. Pernahkan anda memperhatikan berapa jumlah maksimal penumpang di dua kendaraan itu? Dua belas orang ….. berapa jumlah total berat yang harus dibawa (bila penumpang total baik) ? Bila satu orang dewasa mempunyai berat badan 60 sampai dengan 75 kg dan jumlah total 12 orang maka total yang harus dibawa adalah sekitar 720 sampai dengan 900 kg (itupun bila penumpangnya berbadan standar atau kecil). Sekarang berapakah jumlah beban yang sebaiknya mobil itu bawa ? Silahkan anda baca di tanda KIR di badan mobil itu ….. untuk beberapa kendaraan hal itu tidaklah layak.

Bagaimana dengan Kereta Api …….. Wiiiiiiiiiii ….. Ga usah dibahas kali yah ……. Saya jadi malu sebagai warga Jakarta dan penduduk Indonesia buila saya tulis sambil mengingat beberapa teori tentang hak konsumen. Lagi pula Iwan Fals pernah bilang dalam salah satu lagunya …… ”Biasanya kereta terlambat … dua jam mungkin biasa.” …. Padalah itu lagu jadul tetapi PT KAI tetap tuli akan fenomena itu.

Sekarang Transjakarta (Busway)

Have You Ever ……

Pernah naik Busway ? ……. Saya pernah.

Untuk beberapa waktu tertentu naik Busway enak dan nyaman selain lancar juga aman. Ada jalur khusus, AC dan Satpam. Tetapi itu untuk sewaktu-waktu saja diwaktu yang penting seperti pagi dan sore naik Busway seperti naik angkot atau Metromini. Ga ada bedanya, bahkan ga sebanding dengan biaya yang harus di keluarkan dan sebenarnya dengan adanya jalur Busway, membuat ruas jalan sempit jadi pergerakan warga terganggu.
Busway memperparah kemacetan di Jakarta ? Ya …. Menurut saya, Ya. Karena jumlah kendaraan meningkat tetapi jalan bukan di tambah tetapi di sempitkan lagi oleh jalur Busway. Kalau mau pakai jalur khusus dan perlakukan khusus dengan tujuan khusus pula (meminimalisasi kemacetan dan pemakaian kendaraan umum) maka sebaiknya jumlah armada diperbanyak sehinga kenyamanan lebih baik dan citra angkutan umum meningkat.

Nah …… Sekarang …….

Have You Ever ……

Pernahkan anda memperhatikan tarif transportasi umum ?
Sewaktu BBM naik, Transportasi Umum dan Organda DKI ngotot menaikkan tarif bahkan dilapangan sering terjadi ribut mulutantara penumpang dan supir atau kernet tetapi sekarang seteleh BB, diturunkan oleh pemerintah Transortasi Umum dan Organda ngotot tidak menurunkan tarif ….. adilkah ?
Apakah ini wajar? Jelas tidak …. Merugikan konsumen? Jelas Ya.

Ok …. bapak/ibu, om/tante dan kakak sekalian

Have You Ever ……

Pernahkan anda bertanaya pada diri anda ….. apakah warga Jakarta rela membayar lebih untuk andkutan umum yang lebih baik ? Jawabnya ya …… Kenapa demikian ? Apa buktinya? Buktinya sekarang ada taxi yang memakai mobil Mercedez Benz dan Toyota Alpard, mobil mewah yang harganya tidak murah. Karena Mewah harga yang harus dibayar juga lebih mahal. Kok berani yah pakai mobil mahal unutk taxi ? Jawabnya karena perusahaan tahu bahwa ada konsumen yang berani bayar mahal.

Inti semua ini apa sihh ? Kok panjang amat nulisnya.

1. Kemacetan bisa dihindari dengan menarik kendaraan pribadi ke garasi dan warga naik kendaraan umum.
2. Minat itu bisa disuburkan dengan banyaknya kendaraan umum yang baik seperti nyaman, aman dan tertib.
3. Pemerintah perlu ikut campur dalam menstandarisasi spesifikasi teknis jenis kendaraan umum.
4. Warga Jakarta berani bayar mahal untuk kenyamanan selama itu masuk akal dan adil.

Buat bang supir dan kernet …… Piss (maaf niru cara Slank).

Published in: Tak Berkategori on Januari 17, 2009 at 2:42 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Fenomena Kemacetan (Have You Ever)

Have You Ever …..

Bila anda tinggal di Jakarta ….. Pernahkah anda terjebak kemacetan ?

Saya pernah dan Sering …… dan itu merupakan sebuah fenomena kecil hidup di jakarta.

Fenomena adalah bentuk jamak dari Fenomenon dan Fenomenon sendiri sederhananya adalah suatu kejadian yang berdiri sendiri dan biasanya merupakan suatu kejadian yang tidak umum atau spesial. Jadi dalam hal ini, saya melihat bahwa kemacetan (khususnya di Jakarta, Kota saya tinggal) merupakan suatu hal yang bukan lagi luar biasa dan bahkan banyak yang bilang “Bukan Jakarta kalau tidak macet”. Memang hanya ada beberapa hari dalam satu tahun dimana jakarta tidak macet atau jalan-jalan menjadi lengang yaitu beberapa hari sebelum dan setelah Idul Fitri dan saat itulah kami warga jakarta yang tidak mudik merasakan enaknya hidup tanpa kemacetan dan kesemrawutan (Maklum orang tua saya dari Bogor, jadi mudik hanya butuh waktu satu jam).

Kemacetan di Jakarta berlangsung secara merata.Tidak hanya di jalan Protokol atau Utama tetapi sampai ke jalan kecil, biasanya disebut dengan “jalan tikus”, mungkin karena kecilnya tadi. Biasanya kemacetan terjadi pada pagi hari sampai agak siang dan pada sore hari sampai agak tengah malam dan biasanya hal itu berlangsung selama lima hari mulai hari Senin sampai Jumat. Agak sedikit lucu memang tetapi ini terjadi, terkadang waktu terjadi titik konsentrasi kemacetan juga beragam. Terkadang ada satu daerah sering terjadi kemacetan parah pada hari Selasa ada yang hari Rabu dan beberapa tempat dihari yang lain. Membingungkan …. tetapi hal itu terjadi di Jakarta, daerahnya Bang Bowo (maaf tidak bermaksud menyinggung pak Gubernur tetapi Bang Bowo yang dimaksud adalah nama teman saya tetapi bila Bang Bowo “Gubernur” kupingnya panas, maaf ya bang).

Banyak hal telah dilakukan oleh pemerintah termasuk Bang Bowo (gubernur) yang memajukan waktu masuk anak sekolah dan katanya (saya dengar kasak-kusuk) jam kerja pegawai di Lima Wilayah Jakarta akan juga dimajukan dan setiap wilayah memiliki jam masuk kerja yang berbeda-beda. Saya tidak tahu kenapa hal itu terjadi tetapi dari yang saya dengar katanya untuk memecah turunya warga jakarta ke jalan dalam waktu yang bersamaan. “Jadi ga macet deh” Kira-kira sumber saya itu bilang (tetapi maaf dengan nada pesimis).

Naaaahhhh ……
Have You Ever …..
Pernahkah anda bertanya pada diri anda sendiri, apakah program memajukan jam masuk anak sekolah berhasil memecah macet? Apakah program memajukan jam masuk juga akan berhasil memecah macet ?

Saya pernah membaca berita disalah satu koran nasional (maaf saya lupa nama koran dan tanggal berapa) disebutkan bahwa program memajukan jam masuk anak sekolah tidak menyelesaikan permasalahan kemacetan di Jakarta, yang terjadi adalah mamindahkan jam kemacetan di beberap titik kemacetan dan bahkan kemacetan terjadi lebih awal. Biasanya terjadi pada pukul tujuh sekarang awal kemacetan terjadi pada pukul enam atau untuk beberapa tempat terjadi lebih awal. Bagaimana dengan program masuk kerja awal yang “mungkin” akan diberlakukan ? Kalau saya pikir sepertinya juga akan tidak jauh beda, artinya tidak menyelesaikan permasalahan. Bukan hanya itu, mungkin yang terjadi adalah permasalahan baru. Perlu diingat, Jakarta bukan hanya tempat perusahaan lokal tetapi juga internasional dan perusahaan internasional juga punya standar kerja yang telah diatur oleh perusahaan induk.

Jadi? …. Yah ….. Maaf Bang Bowo (gubernur) sepertinya anda harus berpikir perlu lebih bijak dan hati-hati dalam masalah ini karena tadi ….. Jakarta sudah menjadi barometer ekonomi Indonesia (baik-buruk Indonesia dilihat dari Jakarta). Investasi bisa hengkang dari Jakarta bila Pemerintah Provinsi terlalu berkuasa. Dalam Ilmu Menejemen khususnya Ekonomi Makro dan Perdagangan Internasional dan dalam Ilmu Politik khususnya Hubungan Internasional dijelaskan ada sebuah kelompok bukan negara atau “Non State” yang digjaya secara finansial sehingga memiliki Bargain Power yang cukup tinggi dan kelompok itu adalah Multi Nation Coorporation (MNC) dan itu adalah para perusahaan swasta yang bergerak di banyak negara. Di Jakarta ada nggak yaa ? Wiiiihhhh …… Buanyak Bos dan saya tidak akan menyebutkan satu persatu karena akan capek sekali tangan saya bila saya ketik semua.
Jadi sekali lagi harus hati-hati. Lalu bila seandainya disetujui dan berjalan apakah akan berhasil ? Tentu tidak semudah itu …. Saya rasa kemacetan terjadi bukan hanya karena keluar kendaraan dalam waktu bersama-sama tetapi ada unsur yang lain seperti jumlah kendaraan, besar dan panjangnya jalan dan aparat pengatur lalu lintas.
Kalau hanya melihat dan mengatur waktu keluar kendaraan saja yaaa …. Maaf yah ….. Hanya berpikir sederhana saja dong …. Maaf tidak komprehensif ….. Maaf …. He..he..he….. Sekali lagi maaf …… Terlalu “Cetek”.
Coba anda sekalian perhatikan berapa panjang dan lebar jalan kota Jakarta dan berapa jumlah kendaraan termasuk kualitas dan kuantitas para pengatur lalu lintas (Yang Terhormat para bapak dan Ibu Polisi). Seimbangkah ? Jelas tidak.
Sudah Gaji kecil ….. Kepanasan …. Kehujanan … Apalagi kelakukan rekan Oknum yang mencoreng nama baik Korps yang melakukan pungli, korupsi dan sebagainya membuat para polisi menjadi gerah ditambah lagi dengan jumlah kendaraan yang semakin banyak tanpa ada perbaikan dalam kuantitas (jumlah) jalan dan semakin buruknya kualitas jalanan di Jakarta. Contoh di jalan Gatot Subroto (Jalan no 2 terbesar dan terpenting di Jakarta) banyak sekali bolongnya atau tidak rata. Gak malu dengan para “Yang Mulia Duta Besar”, Para Investor dan para tamu asing (Turis). Pantes saja program Visit Indonesia Year tidak berhasil ….. Wong jalan tol yang menghubungkan bandara dengan dunia luar sering banjir dan jalan protokol tidak rata.

Jadi bagaimana ini ?

Saya tidak tahu tetapi yang jelas saya hanya melihat, berpikir dan bersuara melalui tulisan ini. Semua terserah anda.
Saya hanya bisa membantu tidak memperparah kemacetan dengan tulisan ini dan terus mengunakan angkutan umum. Walau Sesak, Bocor kalau hujan, sering ketemu supir yang galak, disindir Istri karena punya mobil tetapi tidak dipakai untuk kerja dan lain sebagainya tetapi hanya itu yang bisa saya lakukan untuk tidak membuat Jakarta semakin parah macetnya dan tidak menyumbang asap knalpot yang membahayakan lingkungan hidup.

saya merindukan Jakarta sebagai tempat yang layak untuk hidup Sehat …. Kurangi Asap Knalpot …. Taman Pohon ….. Buat Resapan Air ….. Stop buang sampah sembarangan ….. Saya rindu Jakarta yang Sehat, Hijau dan bersih.

Published in: on Januari 15, 2009 at 6:36 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Fenomena Amnesia Teknologi (Have You Ever)

Have you ever ……

Pernahkan anda melihat seseorang yang mengunakan Hand Phone (HP) selayaknya seseorang yang mengunakan Handy Talky (HT) ? Kalau saya sering dan itu sangat menggangu mata saya (disturbing). Saya menyebut fenomena itu dengan Amnesia Teknologi atau kehilangan ingatan sesaat atas teknologi yang ia miliki.
Kejadian ini memang baru saya perhatikan akan tetapi semakin lama semakin banyak orang yang seperti ini. tidak hanya pria, wanita juga ada. Tidak hanya anak muda , orang tua juga ada. Bisa dikatakan gejala ini sudah meraja lela.
Bagaimana ciri dari orang yang menderita Amnesia Teknologi ?
Pertama …. Pengguna HP menyalakan HP dengan (biasanya) Mode Speaker (Pengeras Suara).
Kedua ….. Setelah komunikasi tersambung, penguna Hp itu berbicara dengan memposisikan HP didepan mulutnya (seperti seorang penyanyi dengan mikrophone-nya)
Ketiga ….. Sewaktu lawan bicara melakukan pembicaraan ia (penguna HP) menempelkan atau setidaknya mendekatkan HP kearah telinga.
Keempat …… Begitu seterusnya sampai dengan komunikasi berakhir.

Apakah menurut anda ada yang aneh?
Bagi saya … Jelas Aneh!
Bukankah Telepon memang seharusnya menempel di telinga, pipi dan dekat mulut dan bukan seperti diatas (diperlakukan seperti HT)?
Bukankah Mikropon pada HP posisinya didekat mulut (bila pada posisi yang benar) jadi tidak perlu di posisikan seperti diatas?
Bukankah dengan Mode Speaker, si penguna Hp tidak perlu mendekatkan Hp kearah mulutnya (jarak mulut sekitar 50 cm juga masih terdengar oleh lawan bicara)?
Bukankah teknologi diciptakan untuk memudahkan kehidupan bukan untuk mempersulit hidup ?

Buat saya ini merupakan suatu hal yang aneh …. Punya teknologi tetapi tidak mengerti cara menggunakannya dan juga fungsi dari fitur-fitur alat yang mereka miliki. Ada apa ini ? Gejala apakah gerangan ?
Pamer pada orang lain karena ia memiliki HP yang memiliki Mode Speaker ? Bila ya bukankah hampir semua HP memiliki mode itu ?
Pemakaian teknologi yang kebablasan ? Bila Ya kenapa bisa jadi begitu ? “Cultural Shock”, Terkejut karena memakai tenologi baru ? …. Hmmm, bisa jadi.

Jadi gimana dong ? ……
Saya tidak tahu ….. Kalau saya bilang mereka salah, mereka pasti membela diri dan bilang merekalah yang menar dan cara itulah yang masuk akal dan juga modern.
Jadi ? …. Yah dari pada dibilang sok jadi guru dan sok karena saya tidak Norak (setidaknya saya yang bilang demikian), saya mencoba memperbaiki kebablasan diatas dengan cara menulis di blog ini, semoga yang amnesia jadi sadar, yang kebablasan jadi tahu posisi dan yang kaget (Shock) juga faham akan perubahan jaman.

Terakhir salam untuk semua penguna teknologi HP ….. semoga tarif lebih murah tanpa harus sibuk mencari sinyal.

Published in: on Januari 6, 2009 at 10:33 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.