Fenomena Kemacetan (Have You Ever)

Have You Ever …..

Bila anda tinggal di Jakarta ….. Pernahkah anda terjebak kemacetan ?

Saya pernah dan Sering …… dan itu merupakan sebuah fenomena kecil hidup di jakarta.

Fenomena adalah bentuk jamak dari Fenomenon dan Fenomenon sendiri sederhananya adalah suatu kejadian yang berdiri sendiri dan biasanya merupakan suatu kejadian yang tidak umum atau spesial. Jadi dalam hal ini, saya melihat bahwa kemacetan (khususnya di Jakarta, Kota saya tinggal) merupakan suatu hal yang bukan lagi luar biasa dan bahkan banyak yang bilang “Bukan Jakarta kalau tidak macet”. Memang hanya ada beberapa hari dalam satu tahun dimana jakarta tidak macet atau jalan-jalan menjadi lengang yaitu beberapa hari sebelum dan setelah Idul Fitri dan saat itulah kami warga jakarta yang tidak mudik merasakan enaknya hidup tanpa kemacetan dan kesemrawutan (Maklum orang tua saya dari Bogor, jadi mudik hanya butuh waktu satu jam).

Kemacetan di Jakarta berlangsung secara merata.Tidak hanya di jalan Protokol atau Utama tetapi sampai ke jalan kecil, biasanya disebut dengan “jalan tikus”, mungkin karena kecilnya tadi. Biasanya kemacetan terjadi pada pagi hari sampai agak siang dan pada sore hari sampai agak tengah malam dan biasanya hal itu berlangsung selama lima hari mulai hari Senin sampai Jumat. Agak sedikit lucu memang tetapi ini terjadi, terkadang waktu terjadi titik konsentrasi kemacetan juga beragam. Terkadang ada satu daerah sering terjadi kemacetan parah pada hari Selasa ada yang hari Rabu dan beberapa tempat dihari yang lain. Membingungkan …. tetapi hal itu terjadi di Jakarta, daerahnya Bang Bowo (maaf tidak bermaksud menyinggung pak Gubernur tetapi Bang Bowo yang dimaksud adalah nama teman saya tetapi bila Bang Bowo “Gubernur” kupingnya panas, maaf ya bang).

Banyak hal telah dilakukan oleh pemerintah termasuk Bang Bowo (gubernur) yang memajukan waktu masuk anak sekolah dan katanya (saya dengar kasak-kusuk) jam kerja pegawai di Lima Wilayah Jakarta akan juga dimajukan dan setiap wilayah memiliki jam masuk kerja yang berbeda-beda. Saya tidak tahu kenapa hal itu terjadi tetapi dari yang saya dengar katanya untuk memecah turunya warga jakarta ke jalan dalam waktu yang bersamaan. “Jadi ga macet deh” Kira-kira sumber saya itu bilang (tetapi maaf dengan nada pesimis).

Naaaahhhh ……
Have You Ever …..
Pernahkah anda bertanya pada diri anda sendiri, apakah program memajukan jam masuk anak sekolah berhasil memecah macet? Apakah program memajukan jam masuk juga akan berhasil memecah macet ?

Saya pernah membaca berita disalah satu koran nasional (maaf saya lupa nama koran dan tanggal berapa) disebutkan bahwa program memajukan jam masuk anak sekolah tidak menyelesaikan permasalahan kemacetan di Jakarta, yang terjadi adalah mamindahkan jam kemacetan di beberap titik kemacetan dan bahkan kemacetan terjadi lebih awal. Biasanya terjadi pada pukul tujuh sekarang awal kemacetan terjadi pada pukul enam atau untuk beberapa tempat terjadi lebih awal. Bagaimana dengan program masuk kerja awal yang “mungkin” akan diberlakukan ? Kalau saya pikir sepertinya juga akan tidak jauh beda, artinya tidak menyelesaikan permasalahan. Bukan hanya itu, mungkin yang terjadi adalah permasalahan baru. Perlu diingat, Jakarta bukan hanya tempat perusahaan lokal tetapi juga internasional dan perusahaan internasional juga punya standar kerja yang telah diatur oleh perusahaan induk.

Jadi? …. Yah ….. Maaf Bang Bowo (gubernur) sepertinya anda harus berpikir perlu lebih bijak dan hati-hati dalam masalah ini karena tadi ….. Jakarta sudah menjadi barometer ekonomi Indonesia (baik-buruk Indonesia dilihat dari Jakarta). Investasi bisa hengkang dari Jakarta bila Pemerintah Provinsi terlalu berkuasa. Dalam Ilmu Menejemen khususnya Ekonomi Makro dan Perdagangan Internasional dan dalam Ilmu Politik khususnya Hubungan Internasional dijelaskan ada sebuah kelompok bukan negara atau “Non State” yang digjaya secara finansial sehingga memiliki Bargain Power yang cukup tinggi dan kelompok itu adalah Multi Nation Coorporation (MNC) dan itu adalah para perusahaan swasta yang bergerak di banyak negara. Di Jakarta ada nggak yaa ? Wiiiihhhh …… Buanyak Bos dan saya tidak akan menyebutkan satu persatu karena akan capek sekali tangan saya bila saya ketik semua.
Jadi sekali lagi harus hati-hati. Lalu bila seandainya disetujui dan berjalan apakah akan berhasil ? Tentu tidak semudah itu …. Saya rasa kemacetan terjadi bukan hanya karena keluar kendaraan dalam waktu bersama-sama tetapi ada unsur yang lain seperti jumlah kendaraan, besar dan panjangnya jalan dan aparat pengatur lalu lintas.
Kalau hanya melihat dan mengatur waktu keluar kendaraan saja yaaa …. Maaf yah ….. Hanya berpikir sederhana saja dong …. Maaf tidak komprehensif ….. Maaf …. He..he..he….. Sekali lagi maaf …… Terlalu “Cetek”.
Coba anda sekalian perhatikan berapa panjang dan lebar jalan kota Jakarta dan berapa jumlah kendaraan termasuk kualitas dan kuantitas para pengatur lalu lintas (Yang Terhormat para bapak dan Ibu Polisi). Seimbangkah ? Jelas tidak.
Sudah Gaji kecil ….. Kepanasan …. Kehujanan … Apalagi kelakukan rekan Oknum yang mencoreng nama baik Korps yang melakukan pungli, korupsi dan sebagainya membuat para polisi menjadi gerah ditambah lagi dengan jumlah kendaraan yang semakin banyak tanpa ada perbaikan dalam kuantitas (jumlah) jalan dan semakin buruknya kualitas jalanan di Jakarta. Contoh di jalan Gatot Subroto (Jalan no 2 terbesar dan terpenting di Jakarta) banyak sekali bolongnya atau tidak rata. Gak malu dengan para “Yang Mulia Duta Besar”, Para Investor dan para tamu asing (Turis). Pantes saja program Visit Indonesia Year tidak berhasil ….. Wong jalan tol yang menghubungkan bandara dengan dunia luar sering banjir dan jalan protokol tidak rata.

Jadi bagaimana ini ?

Saya tidak tahu tetapi yang jelas saya hanya melihat, berpikir dan bersuara melalui tulisan ini. Semua terserah anda.
Saya hanya bisa membantu tidak memperparah kemacetan dengan tulisan ini dan terus mengunakan angkutan umum. Walau Sesak, Bocor kalau hujan, sering ketemu supir yang galak, disindir Istri karena punya mobil tetapi tidak dipakai untuk kerja dan lain sebagainya tetapi hanya itu yang bisa saya lakukan untuk tidak membuat Jakarta semakin parah macetnya dan tidak menyumbang asap knalpot yang membahayakan lingkungan hidup.

saya merindukan Jakarta sebagai tempat yang layak untuk hidup Sehat …. Kurangi Asap Knalpot …. Taman Pohon ….. Buat Resapan Air ….. Stop buang sampah sembarangan ….. Saya rindu Jakarta yang Sehat, Hijau dan bersih.

Diterbitkan di: on Januari 15, 2009 at 6:36 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://syahyuni.wordpress.com/2009/01/15/fenomena-kemacetan-have-you-ever/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.