Fenomena motor leasing (Have You Ever)

Tulisan in dalah sambungan dari tulisan Macet dan Angkuatn umum jadi ini tulisan ketiga.

Have You Ever ….

Pernahkan anda memperhatikan sewaktu anda jalan di jalan Ibukota (Jakarta) dan menunggu lampu merah. Siapa saja yang ada disana ? Jawabnya banyak ada angkutan umum, mobil pribadi, pedagang asongan, motor, motor, motor , motor, motor lagi dan ……. motor terus.

Kok banyak amat ? Ya, jumlah motor di Jakarta sekarang sudah sangat banyak dan kalau lampu berubah jadi hijau …. Seperti biasa para motor langsung tancap gas dan yang terlihat seperti lalat yang menyerbu makanan …. Banyak sekali. Bahkan sebelum hijaupun (lampu kuning) beberapa motor sudah mulai jalan. Mobil bagaimana ? …. Ada juga yang agak gila ikut diantara kerumunan motor tetapi yang waras memilih untuk menunggu sampai kumpulan motor mulai jalan lancar di depan mereka.

”Lebih baik menunggu satu menit dari pada menyenggol motor ….. Bukan apa-apa …. Tanpa melihat siapa yang salah …. Mereka pasti marah duluan dan yang lain pasti ikut nimbrung, yang ada …… Pembenaran bahwa selalu mobil yang salah dan motor yang menang.” Begitu teman saya pernah bicara pada saya dalam menyikapi sikap pengendara motor yang ada di Jakarta.

Selalu begitu ? Jelas tidak …. ada beberapa Brotherhood (Perkumpulan Motor) yang kebetulan benar dalam arti menjaga sikap sesuai dengan porsinya. Mereka menjaga menejemen perkumpulan dengan cara yang benar dan bukan hanya itu terkadang mereka juga memperbaiki cara anggotanya dalam berkendara. Meski demikian jumlah mereka sangatlah sedikit dan terkesan ekslusif selebihnya …. Maaf yang ada kelompok bebas yang agak keras dalam berkendara.

Have You Ever …..

Pernahkan anda memperhatikan dan bertanya …. Mengapa jumlah motor begitu banyak?
Jawabnya karena usaha Leasing ….. Secara awam orang menyebutnya beli motor kredit.
Saya tidak akan menyebutkan perusahaan Leasing satu persatu (takut dibilang iklan) yang jelas definisi Leasing adalah sewa guna usaha dan salah satu kegunaan Leasing adalah : Konsumen dapat memiliki barang tanpa harus mempunyai uang kontan (maaf kalau mau lebih jelas baca buku Perbankan atau Lembaga Keuangan …. Biar lebih Jelas).

Sewa Guna Usaha ? Artinya bukan beli dong ……. ?
Ya …. Benar. Orang yang ”beli motor dengan kredit” (melalui Leasing), Sebenarnya bukan beli kredit tetapi sewa. Motor tersebut baru dikatakan milik penyicil ”kredit” bila sudah lunas. Selama belum lunas motor itu berstatus sewa …. sama seperti kontrak rumah.

HAAAHHH !!!!! Yang Benar ? ….. Buktinya apa ?
Buktinya, bila saya beli motor atau mobil secara kontan atau cash, STNK dan BPKB pasti ditangan saya, jadi mobil atau motor itu milik saya sepenuhnya. Tetapi dalam pembelian motor dengan Leasing, penyicil hanya memegang STNK saja sedangkan BPKB masih dipegang perusahaan Leasing.

Artinya ? …. Motor tersebut masih milik perusahaan Leasing dan bukan milik penyicil dan sewaktu-waktu apabila cicilan sewa tidak terbayar maka motor akan ditarik. Seperti bila kita tidak bayar kontrakan maka kita akan diusir dari rumah kontrakan.

Jadi motor Leasing atau kredit dan rumah kontrakan bukan milik pemakai ?
Jelas ….. Karena kita hanya sewa tetapi yang kebablasan, penyicil motor menggangap motor yang mereka pakai adalah milik mereka sehingga mereka pikir mereka boleh melakukan apa saja atas motor yang mereka pakai.

Have You Ever ……

Pernahkan anda melihat dan menemui motor yang tidak berupa motor karena sudah di modifikasi total, seperti diselubungi karpet atau digambar-gambar atau dipreteli satu persatu bahkan dihilangkan standar untuk parkir sehingga bila parkir motor itu di posisikan tidur selayaknya sepeda tanpa standar? Saya pernah lihat dan saya sangat menyayangkan …. Kenapa ? Pertama, karena bisa jadi motor itu belum lunas jadi sifatnya sewa dan bukan miliknya. Selayaknya titipan sebaiknya harus di rawat. Kedua, cari uang di jaman sekarang sangat sulit dan bila uang sudah didapat maka sebaiknya dipergunakan dengan baik. Beli motor pake uang jadi setelah dibeli motor sebaiknya dirawat.

Have You Ever ……

Pernahkah anda melihat pengendara motor yang ugal-ugalan dan merasa jalanan mikiknya ? Saya pernah dan sering bahkan. Mengapa sampai terjadi seperti itu ? saya tidak tahu pasti tetapi seperti ya telah terjadi keterkejutan budaya ”Culture Shock” diantara kita rakyat yang tergolong dalam ekonomi menengah kebawah. Biasanya mereka hanya bisa naik kendaraan umum, seperti saya, hanya dengan uang ratusan ribu mereka bisa punya motor. Dulu uang segitu hanya bisa beli sepeda kualitas prima tapi kini mereka bisa beli motor dan itu membuat mereka kaget karena mimpi mereka bisa terwujud secara tiba-tiba.

Saya pernah melihat stiker yang tertempel di spakboard motor berbunyi ”Motor ada di jalur kiri …. artinya yang miskin minggir.”. Bila motor diharuskan jalan dijalur kiri, itu adalah sebuah peraturan yang dari jaman dulu telah ada. Coba perhatikan motor-motor yang jalan di Jakarta pada tahun 80-an atau awal 90-an, Semua motor ada dijalur lambat karena peratuarn demikian adanya. Maaf tolong perhatikan tulisan stiker tadi …. Apa yang tertangkap dalam benak anda ….. ? Kesan dari stiker itu : Pengendara motor adalah orang miskin dan pemerintah mencoba mengusir mereka dari jalan. Benar demikian ? Jelas tidak ! Peraturan bukan hanya untuk orang miskin saja tetapi untuk semuanya. Tanpa kecuali. Pemilik atau pembuat stiker mencoba bangun untuk eksis karena mereka pikir mereka adalah miskin dan akan tersingkirkan …. Seperti biasanya … Si miskin selalu tertindas, dan mengendari motor ugal-ugalan adalah salah satu wujud dari pembuktian eksistensi yang menurut saya salah.

Maaf ini hanya analisa sederhana dan perlu pembuktian. Sekali lagi bila anda tersinggung ….. Bisa jadi anda memang temasuk dalam bagian ini (pengendara yang saya tuis diatas) tetapi bila anda mau berpikir tenang bisa jadi anda dapat mengambil hikmah dari tulisan itu.

Saya hanya warga jakarta yang ingin bisa pergi kapan saja tanpa harus tegang setiap kali bawa mobil atau naik angkot dan yang jelas saya msaih ingin melihat Jakarta yang hijau dan menghirup udara yang bersih.

Published in: on Januari 29, 2009 at 8:16 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.