Do Quickly … Quickly, Do Slowly … Slowly

Ini tulisan ke empat dari tulisan yang dimulai tentang macet dan kalimat tesebut saya dapatkan dari dosen saya sewaktu ia belajar mengambil S3 di Filipina. Menurut beliau ada pepatah yang berkembang di warga Filipina yang menyatakan hal diatas yang artinya kira-kira, kalau pekerjaan harus cepat maka diperlambat dan kalau harus pelan maka jangan dipercepat. Artinya …. Kerjakan sesuatu sesuai dengan kadarnya…. Jangan berlebihan atau dikurangi takarannya …. harus pas.

Berbeda dengan Indonesia yang katanya subur dengan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN). Disini berlaku sebaliknya, ada pepatah tak tertulis, persulitlah pekerjaan yang mudah dan permudahlah pekerjaan yang sulit. Sekilas perkataan itu biasa saja tetapi akan menjadi dahsyat bila berhubungan dengan prosedur atau tata laksana.

Contohnya, pembuatan KTP sebenarnya mudah karena sudah ada Peraturan Pemerintah Daerah (Pemda) tentang itu akan tetapi prakteknya sulit karena pepatah tadi, begitu pula dengan Lalu Lintas, peraturan sebenarnya sangat mudah dan jelas tetapi karena tidak ada sosialisasi maka peraturan sering dilanggar …. nah bila kita bicara pelanggaran maka biasanya kita akan berbicara tentang perbuatan ”memudahkan pekerjaan yang sulit”. Artinya ? akan terjadi perbuatan sogok-menyogok, suap-menyuap, gratifikasi, hadiah dan lain sebagainya.

Dalam kaitanya dengan kemacetan … bapak dan ibu polisi sebenarnya sudah bekerja dengan baik tetapi karena ada beberapa oknum yang menggunakan pepatah salah diatas maka KKN tumbuh subur di jalanan. Bukan ”menjamur” karena jamur hanya tumbuh subur di musim hujan tetapi KKN dijalan tumbuh subur di setiap musim dan bila didiamkan maka budaya KKN akan berkembang dan mendarah daging sampai anak cucu kita, lalu mana harga diri kita bila negara kita selalu dicap sebagai negara koruptor? ….. dan maaf kenyataannya demikian.

Coba anda lihat sekeliling anda (khususnya bila diri anda pengendara mobil atau motor), pernahkah anda bertanya pada diri anda dan lingkungan anda, ”apakah damai tilang itu biasa?” kalau anda lingkungan anda jujur mungkin jawabnya adalah biasa atau bagian dari ”pajak jalanan”….. bila seperti itu jawaban anda maka budaya KKN sudah lazim dalam hidup kita ……. berbahaya bukan ……. KKN sudah menjadi budaya karena sudah tidak aneh bagi kita.

Beberapa waktu yang lalu di televisi saya melihat iklan dari kepolisisn Republik Indonesia yang meluncurkan web tentang kepolisian yang intinya adalah ingin menampung keluhan dari masyarakat atas jasa pihak kepolisian dan dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan selamat dan terima kasih atas usaha pembersihan diri yang baik, patut diacungi jempol (empat kalau boleh ….. karena ibu jari kaki ikut ”ngacung”).

Akan tetapi usaha itu dan usaha bulan citra baik kepolisian (kira-kira namanya seperti itu) yang teleh berjalan beberpa bulan yang lalu akan sia-sia, ibarat hangat tahi ayam, bila tidak disertai dengan sosialisasi segala peraturan tentang kepolisian. Tanpa pembelajaran, kami (masyarakat) akan terus bodoh dan kebodohan itu yang membuat mereka melanggar peraturan. Jadi salah bila ada yang bilang ”peraturan dibuat untuk dilanggar” (itu mungkin hanya untuk orang yang menganut paham anarkisme) karena banyak dari kami melanggar peraturan karena kami tidak tahu.

Karena ”kebodohan” kami yang tidak bapak ibu didik ini membuat peluang besar bagi rekan oknum bapak ibu untuk bermain dan mempermainkan kami (termasuk peraturan juga rekan polisi yang baik atau yang masih sesuai peraturan). Bahkan terkadang karena tidak tahu, sesuatu yang sebenarnya menurut peraturan tidak salah bisa terlihat salah (karena kebodohan tadi) dan sekali lagi akan membawa pada praktek KKN dimana pepatah ”memudahkan sesuatu yang sulit” berlaku yaitu dengan mengunakan uang.

Bapak ibu polisi yang baik juga gagah ….. saya pribadi tidak rela bila bapak/ibu di lecehkan oleh penguna jalan yang bilang ketegasan yang anda miliki hanya untuk menakuti mereka dan mereka kini tidak takut karena sebenarnya inti dari ketegasan itu adalah hanya untuk mendapatkan uang sogokan.

Bapak/ibu polisi ….. saya dukung terus usaha anda dalam memperbaiki citra …. tatapi kalau bisa …. Sosialisasikan dahulu peraturan kepada kami sehingga kami tidak bingung dan kalau bisa …..

Kurangi lemak di perut anda …. biar gesit dalam menangkap maling.
Potong kumis tebal anda …. biar anak TK tidak takut dan jadi sahabat anda.
Kurangi sikap militer anda …. biar kami tidak enggan untuk bertanya dan minta tolong.
Hilangkan biaya mahal di kantor anda ….. karena kami datang untuk minta bantuan anda bukan untuk menabung apalagi bayar upeti.

Hidup Kepolisian Republik Indonesia.

Diterbitkan di: on Maret 10, 2009 at 12:37 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://syahyuni.wordpress.com/2009/03/10/do-quickly-%e2%80%a6-quickly-do-slowly-%e2%80%a6-slowly/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.